Animasi Blogger


WELCOME TO WEBSIDE MAMANYA FIKRI
  • Beranda
  • Mengenalku
  • Profil Artis
  • Serba Serbi
  • TV Online
  • Harian Kota
  • Download
  • Berita Artis
  • Ramalan
  • Minggu, 03 Juli 2011


    (Proposal PTK) Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

    BAB I
    PENDAHULUAN
    A. Latar Belakang Pemasalahan
    Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2006 menyebutkan bahwa satuan pendidikan dasar dan menengah harus menerapkan Standar Isi dan Standar Kompetensi Kelulusan. Standar Isi dan Standar Kompetensi Kelulusan merupakan acuan dan bahan baku penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
    Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD diharapkan dapat bermakna dan berdampak  positif  terhadap hasil belajar suatu proses pembelajaran. Bermakna dan berdampak positif dimaksud adalah dapat terciptanya kondisi belajar yang dapat melibatkan kegiatan siswa secara aktif yang pada gilirannya tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan memperoleh hasil belajar yang baik pula.

    B. Rumusan Masalah
    Berdasarkan latar belakang di atas maka dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
    1. Apakah model pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa .
    2. Apakah model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa.

    C. Pemecahan Masalah
        Untuk memecahkan permasalahan dalam penelitian ini akan dilaksanakan tindakan kelas sebanyak 2
        siklus    dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe STAD melalui :
    1. Awal pelajaran siswa diberi pre test setelah itu guru menyajikan materi pelajaran kepada seluruh siswa dengan menggunakan media pembelajaran disertai tanya jawab.
    2. Siswa dikelompokkan secara heterogen dan diberi tugas mengerjakan Lembar Kerja Siswa (LKS) secara berkelompok. Diusahakan setiap anggota kelompok aktif mengerjakan LKS sehingga semua anggota menguasai materi yang dipelajari.
    3. Akhir kegiatan siswa diberi post test secara individual.

    D. Tujuan Penelitian
    Penelitian Tindakan Kelas ini bertujuan untuk :
    1. Mengetahui hasil belajar siswa melalui pembelajaran kooperatif tipe STAD.
    2. Mengetahui aktivitas guru dan siswa melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD.

    E. Kegunaan Penelitian
    1. Bagi Siswa
    Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat sebagai pengalaman belajar langsung memperkaya pengetahuan tentang materi Kerajaan Hindu, Budha dan Islam di Indonesia sehingga memperoleh hasil belajar maksimal.
    2. Bagi Guru
    Kegiatan penelitian tindakan kelas ini diharapkan bermanfaat sebagai informasi dan perbandingan dalam memilih model pembelajaran kooperatif tipe STAD
    yang berorientasi pada aktivitas belajar siswa serta pengalaman belajar sehari-hari.
    3. Bagi Sekolah
    Hasil penelitian dapat dijadikan acuan salah satu model pembelajaran yang efektif dalam pengelolaan kegiatan proses pembelajaran dengan model
    pembelajaran Kooperatif Tipe STAD.

    BAB II
    KERANGKA TEORI DAN HIPOTESES TINDAKAN

    A. Pengertian Belajar
    Sebagian besar ahli berpendapat bahwa belajar adalah merupakan proses perubahan, dimana perubahan tersebut merupakan hasil dari pengalaman. Dengan pengembangan tekhnologi informasi, belajar tidak hanya diartikan sebagai suatu tindakan terpisah dari kehidupan manusia. Banyak ilmuwan yang mengatakan belajar menurut sudut pandang mereka.
    Beberapa definisi belajar sebagai suatu perubahan menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut.`
    1. Gagne dan Berliner (Ani Tri, 2004:2) menyatakan bahwa belajar merupakan proses dimana sesuatu organisme mengubah perilakunya karena hasil dari pengalaman.
    2. Menurut Teori Belajar Konstruktivisme (Ani Tri, 2004:49-50) belajar adalah lebih dari sekedar mengingat. Siswa yang memahami dan mampu menerapkan pengetahuan yang telah dipelajari, mereka harus bisa menyelesaikan masalah, menemukan sesuatu untuk dirinya, dan berkutat dalam berbagai gagasan. Guru adalah bukan orang yang mampu memberikan pengetahuan kepada siswa, sebab siswa yang harus mengkonstruksikan pengetahuan di dalam memorinya sendiri.
    Sebaliknya tugas guru yang paling utama adalah :
    a. Memperlancar siswa dengan cara mengajarkan cara-cara membuat informasi bermakna dan relevan dengan siswa;
    b. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan gagasannya sendiri;
    c. Memanamkan kesadaran belajar dan menggunakan strategi belajarnya sendiri. Disamping itu guru harus mampu mendorong siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap materi yang dipelajarinya;
    3. Menurut Suharsimi Arikunto (1980:19) mengartikan bahwa belajar merupakan suatu proses karena adanya usaha untuk mengadakan perubahan terhadap diri manusia yang melakukan, dengan maksud memperoleh perubahan dalam dirinya, baik berupa pengetahuan, ketrampilan maupun sikap.
    Berdasarkan definisi-definisi tersebut batasan-batasan belajar dapat disimpulkan sebagai berikut.
    a. Suatu aktivitas atau usaha yang disengaja
    b. Aktivitas tersebut menghasilkan perubahan, berupa sesuatu yang baru baik yang segera nampak atau tersembunyi tetapi juga hanya berupa penyempurnaan terhadap sesuatu yang pernah dipelajari
    c. Perubahan-perubahan itu meliputi perubahan keterampilan jasmani, kecepatan perseptual, isi ingatan, abilitas berpikir, sikap terhadap nilai-nilai dan inhibisi serta lain-lain fungsi jiwa (perubahan yang berkenaan dengan aspek psikis dan fisik)
    d. Perubahan tersebut relatif bersifat konstan.

    B. Hasil Belajar Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia
    menerima pengalaman belajarnya. Kingsley (Sudjana, 2001: 22) membagi tiga macam hasil belajar, yaitu :
    a) Keterampilan dan kebiasaan;
    b) Pengetahuan dan pengertian;
    c) Sikap dan cita-cita yang masing-masing golongan dapat diisi dengan bahan yang
    ada pada kurikulum sekolah.
    Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu sebagai berikut:
    1. Faktor-faktor yang bersumber dari dalam diri manusia.
    Faktor ini dapat diklasifikasikan menjadi dua yakni faktor biologis dan faktor psikologis. Faktor biologis antara lain usia, kematangan dan kesehatan, sedangkan faktor psikologis adalah kelelahan, suasana hati, motivasi, minat dan kebiasaan belajar.
    2. Faktor yang bersumber dari luar manusia.
    Faktor ini diklasifikasikan menjadi dua yakni faktor manusia dan faktor non manusia seperti alam, benda, hewan, dan lingkungan fisik.
    Beberapa ciri untuk melihat hasil belajar yang diperoleh siswa setelah melakukan proses belajar adalah sebagai berikut:
    a. Siswa dapat mengingat fakta, prinsip, konsep yang telah dipelajarinya dalam kurun waktu yang cukup lama.
    b. Siswa dapat memberikan contoh dari konsep dan prinsip yang telah dipelajarinya.
    c. Siswa dapat mengaplikasikan atau menggunakan konsep dan prinsip yang
    telah dipelajarinya.
    d. Siswa mempunyai dorongan yang kuat untuk mempelajari bahan pelajaran lebih lanjut.
    e. Siswa terampil mengadakan hubungan sosial seperti kerja sama dengan siswa lain, berkomunikasi dengan orang lain, dan lain-lain.
    f. Siswa memperoleh kepercayaan diri bahwa ia mempunyai kemampuan dan kesanggupan melakukan tugas belajar.
    g. Siswa menguasai bahan yang telah dipelajari minimal 65% dari yang seharusnya dicapai.

    C. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
    1. Pengertian Pembelajaran Kooperatif
    Pembelajaran Kooperatif merupakan suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok setiap anggota saling bekerja sama dan membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran. Balajar belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai
    bahan atau materi pembelajaran (Depdiknas, 2005: 9).
    2. Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif
    a. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
    b. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
    c. Bila mana mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, dan jenis kelamin berbeda-beda.
    d. Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok ketimbang individu.
    3. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif.
    Fase Tingkah Laku Guru
    Fase 1
    Menyampaikan Tujuan dan memotivasi siswa
    Fase 2
    Menyampaikan informasi
    Fase 3
    Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar
    Fase 4
    Membimbing kelompok bekerja dan belajar
    Fase 5
    Evaluasi
    Fase 6
    Memberikan penghargaan
    - Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran
    yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar
    - Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demontrasi atau lewat bahan bacaan.
    - Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
    - Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas.
    - Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasilkerjanya.
    - Guru mencari cara-cara untuk menghargai
    baik upaya maupun hasil belajar individu
    dan kelompok.
    4. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
    Pada STAD siswa dalam suatu kelas tertentu dibagi menjadi kelompok dengan anggota 4 sampai dengan 5 orang, setiap kelompok haruslah heterogen terdiri dari laki-laki dan perempuan, berasal dari berbagai suku, memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
    Anggota team menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran yang lain untuk menuntaskan materi pelajarannya, dan kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami bahan pelajaran melalui toturial, kuis, satu sama lain dan melakukan diskusi.
    Pengertian STAD adalah salah satu model pembelajaran kooperatif dengan sintaks pengarahan, buat kelompok heterogen (4-5 orang), diskusi bahan belajar LKS, modul secara kolabratif, sajian presentasi kelompok sehingga terjadi diskusi kelas, kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa atau kelompok, umumkan rekor tim dan individual serta memberikan reward.
    Langkah-langkah STAD
    a) Membentuk kelompok secara heterogen (jenis kelamin, ras, kemampuan).
    b) Guru menyajikan pelajaran.
    c) Guru memberi tugas kelompok dan anggota yang tahu menjelaskan pada anggota lain sampai semua anggota mengerti.
    d) Guru memberi pertanyaan/kuis kepada seluruh siswa dan pada saat menjawab tidak boleh saling membantu.
    e) Evaluasi.
    f) Kesimpulan.
    Penghargaan Kelompok
    Berdasarkan hasil nilai perkembangan maka penghargaan pada prestasi kelompok diberikan dalam tingkat penghargaan seperti kelompok baik, kelompok hebat dan kelompok super (Naparin, 2006:33).
    5. Kelebihan dan kelemahan Pembelajaran Kooperatif.
    a. Kelebihan Pembelajaran Kooperatif.
    1) Pelajaran kooperatif membantu siswa mempelajari isi materi pelajaran yang sedang dibahas.
    2) Adanya anggota kelompok lain yang menghindari kemungkinan siswa mendapat nilai rendah, karena dalam pengetesan lisan siswa dibantu oleh anggota kelompoknya.
    3) Pembelajaran kooperatif menjadikan siswa mampu belajar berdebat, belajar mendengarkan pendapat orang lain, dan mencatat hal-hal yang bermanfaat untuk kepentingan bersama.
    4) Pembelajaran kooperatif menghasilkan pencapaian belajar siswa yang
    tinggi menambah harga diri siswa dan memperbaiki hubungan dengan
    teman sebaya.
    5) Hadiah dan penghargaan yang diberikan akan memberikan dorongan bagi
    siswa untuk mencapai hasil yang lebih tinggi.
    6) Siswa yang lambat berfikir dapat dibantu untuk menambah ilmu pengetahuannya.
    7) Pembentukan kelompok-kelompok kecil memudahkan guru untuk memonitor siswa dalam belajar bekerja sama.
    b. Kelemahan Pembelajaran Kooperatif.
    1) Pembelajaran kooperatif bukanlah obat yang paling mujarab untuk
    memecahkan masalah yang timbul dalam kelompok kecil.
    2) Adanya ketergantungan sehingga siswa yang lambat berfikir tidak dapat berlatih belajar sendiri.
    3) Pembelajaran kooperatif memerlukan waktu yang lama sehingga target pencapaian kurikulum tidak dapat dipenuhi.
    4) Pembelajaran kooperatif tidak dapat menerapkan materi pelajaran secara cepat.
    5) Penilaian terhadap individu dan kelompok dan pemberian hadiah menyulitkan bagi guru untuk melaksanakannya (Soewarso, 1998 :23).

    D. Hipotesis Tindakan
    Berdasarkan tinjauan pustaka di atas, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : Proses pembelajaran jika diterapkan model kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

    BAB III
    METODE PENELITIAN

    A. Jenis Penelitian
    Jenis penelitian ini adalah PTK. Peneliti dalam penelitian ini terlibat langsung dalam proses penelitian baik dari awal hingga penelitian selesai.
    Menurut Kemmis yang dikutif Kurdi (Depdiknas, 2005: 4) menyatakan bahwa PTK adalah studi sistematik tentang upaya memperbaiki praktik pendidikan oleh sekelompok peneliti melalui kerja praktik mereka sendiri dan merefleksikannya untuk mengetahui pengaruh-pengaruh kegiatan tersebut.
    PTK yaitu sebagai bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas dan merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi di dalam kelas secara bersama. Selanjutnya menurut Lewin yang dikutif Kemmis dan Mc Taggar (Depdiknas, 2005: 4) menyebutkan bahwa Penelitian Tindakan Kelas memiliki empat langkah yaitu rencana, tindakan, observasi, dan refleksi.
    Ada beberapa hal yang dilakukan dalam perencanaan PTK yaitu meliputi pembuatan skenario pembelajaran, persiapan fasilitas, sarana pendukung, persiapan cara merekam, menganalisis data, dan simulasi pelaksanaan tindakan perbaikan.
    Perencanaan tindakan kelas dilaksanakan dalam pelaksanaan PTK secara aktual . Kegiatan pelaksanan tindakan perbaikan ini merupakan tindakan pokok dalam siklus PTK, dan pada saat yang bersamaan kegiatan pelaksanan tindakan ini juga diikuti dengan kegiatan observasi, dan interpretasi serta kegiatan refleksi (Depdiknas, 2005: 18).

    B. Setting / Lokasi Penelitian
    Penelitian ini dilaksanakan di SD / SMP Kelas / Tahun Pelajaran dengan jumlah murid.

    C. Faktor yang Diteliti
    1. Faktor Siswa
    Bagaimana aktvitas belajar siswa terhadap model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
    2. Faktor Guru
    Bagaimana materi pelajaran dipersiapkan dan strategi pembelajaran yang diterapkan guru, sehingga dalam pembelajaran anak dapat memahami materi.
    3. Faktor Hasil Belajar
    Bagaimana hasil balajar siswa yang dicapai setelah diberikan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.

    D. Skenario Tindakan
    Prosedur penelitian ini terdiri dari 2 siklus, setiap siklus dilaksanakan 3 kali
    pertemuan. Setiap pertemuan memerlukan waktu 2 x 35 menit atau 2 jam pelajaran. Pada tiap siklus terdapat 4 tahapan yaitu tahap perencanaan dan pelaksanaan tindakan, observasi, evaluasi dan refleksi.
    Langkah-langkah Penelitian sebagai berikut :
    1. Perencanaan (Planning)
    a. Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan materi kerajaan Hindu, Budha dan Islam di Indonesia menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
    b. Menyusun LKS dengan materi kerajaan Hindu, Budha dan Islam di Indonesia
    c. Menyiapkan sumber bahan, alat peraga dan media pembelajaran, tes tertulis serta daftar nilai.
    d. Menyusun instrumen penelitian berupa format observasi dalam proses belajar mengajar.
    2. Pelaksanaan Tindakan ( Action)
    Siklus I
    a. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai setelah pembelajaran dilaksanakan.
    b. Guru membentuk kelompok kooperatif yang heterogen (dalam setiap kelompok 4 s.d 5 orang )
    c. Setiap kelompok mendapatkan materi kerajaan Hindu, Budha dan Islam di Indonesia.
    d. Setiap kelompok berdiskusi dan saling membantu temannya dalam memahami materi pembelajaran.
    e. Setiap kelompok mengerjakan LKS yang diberikan guru.
    f. Guru memberikan bimbingan dan melakukan penilaian dengan menggunakan tes/soal evaluasi kepada siswa.
    g. Guru memberikan skor dan melakukan analisis hasil evaluasi.
    h. Guru memberikan penghargaan kepada setiap kelompok berdasarkan perolehan masing-masing.

    Siklus II
    a. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai setelah pembelajaran dilaksanakan.
    b. Guru membentuk kelompok kooperatif yang heterogen (dalam setiap kelompok 4 s.d 5 orang )
    c. Setiap kelompok mendapatkan materi kerajaan Hindu, Budha dan Islam di Indonesia.
    d. Setiap kelompok berdiskusi dan saling membantu temannya dalam memahami materi pembelajaran.
    e. Setiap kelompok mengerjakan LKS yang diberikan guru.
    f. Guru memberikan bimbingan dan melakukan penilaian dengan menggunakan test/soal evaluasi kepada siswa.
    g. Guru memberikan skor dan melakukan analisis hasil evaluasi.
    h. Guru memberikan penghargaan kepada setiap kelompok berdasarkan perolehan masing-masing.
    3. Observasi dan Evaluasi (Observation and Evaluation)
    Observasi terhadap pelaksanaan penelitian tindakan kelas menggunakan lembar observasi dan melakukan evaluasi terhadap kegiatan yang dilaksanakan. Seluruh hasil observasi dan evaluasi dicatat untuk dijadikan bahan pertimbangan melalukan refleksi.
    4. Refleksi (Reflection)
    Hasil observasi dan evaluasi dengan mengunakan lembar observasi, hasil test berupa daftar nilai, dan LKS, yang diperoleh setiap siklus dianalisis secara diskriptif yaitu data kuantitatif dan kualitatif, kemudian diinterpretasikan sebagai bahan acuan refleksi guru juga akan dipergunakan sebagai acuan unuk melaksanakan kegiatan siklus berikutnya.
    E. Analisis Data
    Jenis data yang diperoleh adalah data kuantitatif yaitu nilai hasil LKS, dan tes/soal evaluasi sedangkan data kualitatif yaitu obsevasi guru dalam pengelolaan pembelajaran dan obsevasi aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar. Selanjutnya kedua tersebut di atas dianalisis dengan teknik persentase dan ketuntasan belajar.
    Adapun nilai evaluasi dimasukkan kedalam rumus sebagai berikut :
    - Secara individual :
    Jumlah skor
    Persentase x 100 %
    Jumlah skor maksimal
    - Secara Klasikal :
    Jumlah Siswa dengan nilai 75
    Persentase x 100 %
    Jumlah Siswa Keseluruhan

    Kriteria Ketuntasan Belajar
    1. Ketuntasan Individu
    Jika siswa mencapai nilai 70 dari soal yang diujikan.
    2. Ketuntasan Klasikal
    Jika 75 % dari seluruh siswa telah mencapai ketuntasan.
    _____________________________________________________________
    DAFTAR RUJUKAN
    Ahmadi, Abu dan Prasetyo Tri Joko. 2005. Strategi Belajar Mengajar Jakarta:Pustaka Setia
    Ansori, Hidayat. 2009 Makalah Diklat PLPG Banjarmasin (tidak dipublikasikan)
    Arikanto, Suharsimi (2006) Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Jakarta : Bumi Aksara
    Badan Standar Nasional Pendidikan. 2008. KTSP-SD Model Silabus Kelas V. Jakarta
    Corebima, Duran, dkk, 2002 Pembelajaran Kooperatif, Jakarta : Dirjen Dikdasmen
    Depdiknas, 2006. KTSP SD/MI. Banjarmasin Dinas Propinsi Kalimantan Selatan
    Joni, Raka 2000. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Dirjen Dikti.
    Karmawati. 2010, Keunggulan dan Kekurangan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
    Jurnal (http://yankcute.blogspot.com/2010/02/html diakses 7 Mei 2010)
    Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi). 2010. Program PGSD FKIP Universitas Lambung Mangkurat

    Tidak ada komentar:

    Poskan Komentar